Jump
Saya lebih menyukai dunia seni atau olahraga ketimbang memikirkan bagaimana membuat anggaran tahunan dan melihat berita ekonomi siang dan malam sampai mata sepet ngeliatnya hanya untuk melihat nilai saham naik atau turun atau kurs rupiah kegencet lagi apa nggak. Emang sih ada pepatah yang mengatakan tak kenal maka tak sayang, saya setuju. Siapa tahu dunia yang tak saya sukai ternyata bisa saya sukai. Namun, saya akan mulai dari hal-hal yang saya sukai lebih dahulu. Itu sama seperti mengerjakan ujian, dimulai dengan hal yang paling mudah.
Mungkin karena saya lajang, maka banyak orang yang mengatakan pada saya bahwa saya gampang sekali berbicara “beranilah melompat”, bisa kesana kemari, punya waktu yang bebas, bilang kalau sudah nikah tuh orang uda pada hilang dari aktivitas, pokoknya banyak dah. Coba kalau sudah menikah, sudah punya anak. Saya memang lajang, tapi itu tak berarti saya tak punya masalah. Nah, untuk mampu dan berani melompat, saya mengatakan pada diri saya untuk tetap memikirkan masalah saya dan mencari jalan keluarnya, tetapi hal itu tak akan menghambat saya untuk melompat.
Karena melompat atau tidak, kesusahan dan ujian hidup sudah ada disekitar hidup saya. Kalau saya terlalu memikirkan itu terus menerus, saya tak akan kemana-mana. Dan kalau saya tak kemana-mana, berarti saya telah membuang kesempatan yang mungkin saja memberikan pengalaman hidup baru.
Melompat bukan hanya sekedar melompat, tanpa ada kecerdasan. Tapi bolehlah kita berfikir proses, tapi sekali lagi bukan hasil yang menjadi tujuannya
Mengapa saya mau melompat ke dunia yang baru? Saya mengharap, itu akan mengurangi kesempatan untuk saya menjadi katak di dalam tempurung.
Melompat bukan hanya sekedar melompat, tanpa ada kecerdasan. Tapi bolehlah kita berfikir proses, tapi sekali lagi bukan hasil yang menjadi tujuannya
Mengapa saya mau melompat ke dunia yang baru? Saya mengharap, itu akan mengurangi kesempatan untuk saya menjadi katak di dalam tempurung.
Saya tak akan menyesal kalau setelah melompat saya jatuh di atas batu. Kalau pun kepala saya “pecah”, saya paling merengut kesakitan atau pingsan. Paling tidak, saya sudah pernah mengalami rasanya sakit kalau kepala “pecah”. Nah kalau begitu buat apa ada dokter. Atau ada kalimat iklan kalau nggak kotor ya ngga belajar.
Melompat yang saya maksudkan tak berarti selalu berakhir dengan melakukan pekerjaan yang memberi saya imbalan berupa uang atau keuntungan semata. Saya ingin melompat tanpa selalu berpikir sebelumnya, apakah saya akan untung atau tidak. Sama seperti Rasulullah ketika di Ta’if, apakah penduduk itu akan menerimanya atau sebaliknya? Tapi resiko itu sudah siap dihadapinya dengan keberanian yang sungguh luar biasa.
Kalaupun saya tak beruntung, tetapi orang lain beruntung, bukankah itu juga kepuasan dari melompat. Kalau nanti saya mati “dunia” tak akan saya bawa, tetapi saya akan membawa kebahagiaan karena saya pernah melompat dan membahagiakan orang lain. Siapa tahu, itu bisa hujjah saya kepada Allah untuk menyediakan kapling buat saya di surga…wallahu’alam